laut selatan


laut selatan...
dari atas mercusuar tua
aku mengawasimu,
menikmati tiap sudut-sudut sepi

debur ombakmu menyapu lembut pasir bibir pantai
menghasilkan desahan alam penuh hasrat,
aku merasakan butir-butir pasir berbisik riang
dicumbui asinya air kehidupan,
berpadu deru angin laut bertiup pelan
membelai ilalang-ilalang kering

pandanganku luas tak tertepi
di depan sana samudera hindia
hanya pada garis batas cakrawala
titik pertemuan bumi dan langit
pandanganku tertambat


laut selatan...
aku berdiri sendiri
menatapmu tak henti
riuh ombak pasir pantaimu
sepoi belaian anginmu
luas lautmu dan biru langitmu
ku rasakan mereka memelukku mesra
ada damai dalam setiap detik yang ku rasa
aku begitu tenang
aku begitu nyaman ada di sini

ah... sialan, laut selatan!
kau membuatkan ku rindu kampung halaman


17/12/09 tepi pantai Patehan

Balada Tentara Pena*


Angka sepuluh merupakan angka keramat, dalam sepakbola siapa yang mengenakan angka sepuluh berarti dialah bintang tim orang yang paling diandalkan meski mereka bermain bersebelas. Bukan hanya itu saja, ketika duduk di bangku sekolah dasar kita selalu berharap akan mendapat nilai sepuluh dalam pelajaran matematika, suatu pembuktian bahwa kita adalah anak jenius, meski ternyata guru punya rahasia, nilai sepuluh untuk Tuhan, sembilan untuk guru dan sisanya buat murid-murid.

Nah... ternyata, angka sepuluh dalam kesejarahan Indonesia juga memiliki arti yang sakral.


lagi-lagi dalam pelajaran sejarah di sekolah dasar pertama kalinya saya mengetahui peristiwa tersebut dari guru sejarah yang begitu apik bercerita meski saya tahu gaji guru tersebut tidak akan pernah cukup membawanya mengunjungi Surabaya apalagi nogkrong di jembatan merah sambari menyerutup wedang ronde dan menatap keindahan hotel Yamato (hotel Majapahit sekarang) yang bersejarah tersebut. Kawasan yang sekarang hampir ditelan ganasnya pembangunan.


Kisah heroik para anakmuda Surabaya (arek-arek Suroboyo) puluhan tahun tersebut dalam memerangi pendudukan tentara sekutu dengan bersenjatakan bambu runcing dan mermodalkan semangat merdeka atau mati, perlahan kisah tersebut mulai menghipnotis orientasi (cita-cita) masa depan seorang bocah desa, anak ingusan yang hidup dari hasil pertanian dan nelayan. Menetap di suatu tempat nun jauh di sana yang dalam sejarah Indonesia ketika masih ber-label VOC pernah menjadi Ibukota negara yang berkedudukan di Amboina.


Dalam otak saya ketika itu, berbicara kepahlawanan (hari pahlawan) seakan-akan hanya ada satu cita-cita yang paling mulia dan dapat dicatat oleh sejarah yaitu menjadi tentara. Kenapa demikian? terlepas dari latar belakang kakek saya adalah seorang tentara kemerdekaan dengan sekelumit kisah perjuangan yang disodorkan menemani siang-malam saya, namun ketika itu alasan saya memilih tentara sangat sederhana, "dengan menjadi tentara maka otomatis akan dibekali senjata dan pasukan, kemudian itu digunakan untuk memerangi musuh, cerita pun selalu berakhir manis berbuah kemenangan ditangan dengan begitu Indonesia akan menjadi Negara yang besar dan saya pun mencatatkan diri dalam sejarah".


Demikian setumpuk memori masa lalu saya ketika berbicara hari Pahlawan 10 November. Bagaimana sekarang? apakah masih ada cita-cita serupa? menjadi tentara, berbakti pada negara-bangsa dan dicatat dalam sejarah?


Pertama, cita-cita itu masih ada, untuk berbakti pada negara-bangsa dan dicatat dalam sejarah. Namun saya mengurungkan niat menjadi tentara karena pertimbangan material dan imaterial. Pertimbangan material karena ternyata kakek saya yang jelas-jelas adalah tentara kemerdekaan tidak mendapatkan haknya (pensiun) dan ternyata juga semakin kecil gajinya maka semakin besar resikonya, bandingkan gaji Jenderal yang duduk di ruang ber AC dengan tentara Infantri yang menjadi tameng di garda depan. Pertimbangan Imaterialnya adalah secara fisik saya kurang proporsional menjadi tentara, mana mungkin ada tentara kurus dan pendek, bisa-bisa memikul senjata saja tak kuasa apalagi berperang.


Kedua, berbekal kontemplasi sesaat dengan metode acak, ternyata membuahkan hasil. Berdasarkan kekurangan dan kelebihan yang saya miliki kemudian saya mulai mencari posisi yang tepat untuk mewujudkan cita-cita kecil saya tersebut.Tentara bicara ketahanan dan harga diri Negara terutama dari segala ancaman yang datang dari luar namun mereka lebih bersifat institusionalis. Bekerja sesuai sistem dan hukum yang berlaku. Meski terkadang di dalamnya terdapat kecurangan-kecurangan.


Saya harap cita-cita baru saya ini tidak kalah penting dengan tugas yang dijalankan tentara secara institusi. Tentara bicara harga diri bangsa di mata internasional, maka saya juga bicara hal yang sama, turut aktif dalam pergaulan internasional menunjukan kemampuan diri demi harga diri dan kehormatan Indonesia dalam pergaulan global.


Bila Tentara secara Institusi bicara mempertahankan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dari ancaman yang datang dari luar, maka saya juga berbicara hal yang sama, mempersatukan dari Merauke sampai Sabang menegakan keutuhan Nation-State membangun kekuatan nasional untuk memblok ancaman dari luar.


Suatu pekerjaan paling kuno dalam sejara umat manusia. Telah dipraktekan selama berabad-abad. Bahkan nenek moyang kita juga telah melakukan hal yang sama. Dan hampir kesemuanya membuahkan hasil. Suatu fase kehidupan yang di definisikan sebagai ciri masyarakat modern, proses eksistensi diri yang menemukan bentuknya.

Silahkan menerka, apa gerangan cita-cita yang mampu menandingi kerja-kerja Institusi Tentara, berbakti pada Nation-State dan dicatat dalam sejarah? Pekerjaan yang mulia seheroik perjuangan arek-arek Suroboyo.Anda harus bersiap-siap bingung dan terkejut dengan jawaban dari saya ini. Terkejut atau tidak, bingung atau tidak namun yang jelas anda harus bersiaplah untuk dua hal, pertama, anda akan mengamini mimpi saya ini. Kedua anda bersiaplah memiliki mimpi yang sama dengan saya.

Kawan... taukah apa cita-cita saya itu?

Sederhana saja saya hanya ingin Menulis...Menulis...dan Menulis




*Tulaisan pernah dimuat di bulletin Tjorong edisi November 2009

Gambar link

Musim Penghujan

sore diselimuti mendung rinaimu
sudut-sudut kota digelayuti sepi
hari serasa mati tak berkedip
hanya sumpah serapah terdengar
terselip suara pedagang kaki lima membungkus lapaknya
sementara petani ladang menyiapkan persembahan
sesajen musim tanam telah tiba
di Ibukota semua orang sibuk menyambut tamu tahunan
banjir siap melayat
mengunjungi setiap sudut kehidupan
bahkan
jika sempat
sowan P
residen di Istana Negara
musim hujan, musim penuh warna
seperti pelangi yang kau titipkan
lalu kau h
apus dengan gerimis
perlahan hujan menjama bumi


Jogja, 21 Nov 09

Gambar
,,,

Cuap-Cuap Bahasa Teologi

Di kompas edisi jumat tahun lalu? pernah muncul tulisan menarik. Inti tulisan tersebut adalah merubah urutan pancasila. Sila kelima menjadi urutan pertama, keempat menjadi urutan kedua dan seterusnya. Pada pemahaman tersebut, konsepsi teologis, "ketuhanan yang maha esa" diletakkan pada baris paling akhir, yakni pada urutan kelima, sebaliknya persoalan kesejahteraan dijadikan sebagai capain kunci. Ini dekat sekali dengan rekonstruksi teologis yang pernah dilakukan Hasan Hanafi setelah revolusi iran 79. Tapi buku Simogaki, "Kiri Islam Hasan Hanafi" baru beredar (diterjemahkan) di Indonesia tahun 92? Hasan Hanafi melihat kecenderungan kooptasi teologis oleh kekuasaan. Oleh karena itu dia mencoba membangkitkan lagi khasanah teologi pembebasan, memuji Mu'tazilah, otomatis juga mendapat berkah dari Marx. Dan seterusnya, kawan2 pasti lebih paham. Yang jelas, ini varian pemikiran yang linear dengan--jika konsepsi teologis pancasila diletakkan menjadi "bungsu". Karena, katanya, "seseorang tidak mungkin mampu mengemban ritus2 keagagamaan dengan kondisi perut yang lapar." Ini hanya analogi kecil.

NB: catatan singkat ini tersentil dari komentar kawan Oo Zaki di atas.

Manusia Indonesia meletakan ketuhanan pada point pertama dalam falsafah bernegaranya, hasilnya adalah ketika BBM naik Ulama datang dan berkata "sabarlah semua ada hikmahnya". Bencana Lumpur Sidoarjo yang jelas-jelas kesalahan manusia kemudian dimaknai sebagai bencana yang datang dari langit, lagi-lagi ulama datang "kita harus banyak mendekatkan diri pada Nya, semua ini cobaan kita ambil hikmahnya saja". Agama di Indonesia kemudian sangat melemahkan bukan kemudian menjadi spirit dalam menjalani hidup.

Agama adalah alat dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita ibaratkan Agama seperti pisau dan kebahagiaan dunia-akhirat sebagai kue. Untuk dapat memakan kue maka kita harus memotongnya maka kita butuh pisau. Bagaimana mendapatkan potongan kue yang bagus dan enak? Jawabanya adalah Kita butuh pisau tajam, bersih dan mengetahui cara memotong kue. Maka akan menghasilkan kue yang enak dan bagus sesuai yang diharapkan. Byangkan bila kita mengunakan pisau yang tumpul, kotor dan tidak tahu cara memotongnya maka hasilnya tentu akan mengecewakan.

Nah... analogi tadi sekarang kita kontekskan dengan Agama/Teologi dan pemebebasan. Teologi di tempatkan sebagai pisau dan pembebasan adalah kuenya. Maka untuk mendapatkan kue yang enak kita butuh pisau yang tajam. bersih dan tahu cara memotong. Artinya adalah sebelum meletakan Teologi sebagai alat pembebasan maka ada baiknya kita tanyakan apakah Teologi yang ada sekarang sudah tajam, bersih, dan paham cara memebebaskan? Bila jawabanya adalah suadah/ya maka kenapa Teologi masih saja diam di tengah situasi seperti ini? Jika Teologi masih saja diam tidak dapat menjadi alat yang efisien maka sebelum Teologi menjadi alat pembebasan (teologi pembebasan) maka adabaiknya Teologi dibebaskan terlebih dahulu (pembebasan teologi).
Secara spiritualitas saya belum mampu menjawab hal tersebut, tapi ada baiknya kita kembali melihat perjalanan panjang dimana Teologi menjalankan fungsinya dengan apik.

Setiap Agama lahir atas dasar spirit pembebasan menjadi lokomotif dalam mengerakan umat manusia menuju kebebasan duniawi dan ukhrowi. Mari kita belajar dari pemuda-pemuda progresif revolusioner yang telah menjadi spirit dan menginspirasi umat manusia sepanjang masa.

Belajar dari Musa di Mesir. Melakukan perlawanan pada penguasa (Firaun) yang memperbudak orang Yahudi sebagai buruh untuk membangun makam para raja (piramid). Musa kemudian resisten, melawan ayah angkatnya sendiri. Mengorganisir ratusan ribu buruh/budak untuk mendapatkan kebebasannya. Terjebak di gurun selama puluhan tahun namun kemudian berbuah manis untuk kebebasan para buruh tersebut. Seorang aktivis buruh yang ulung.

Lihat juga apa yang dilakukan Yesua putra Maria. Isa Almasih seorang anak muda umur dua-puluhan hadir mentang pedagangan (barang & uang) di Bait suci. Berdebat dengan para pendeta karena semuanya diam dan lebih berpihak sebagai corong penguasa yang lalim. Dan pada titik klimaksnya Isa berikrar melawan hegemoni imperium Roma. Imperium terbesar di dunia yang dikendalikan oleh penguasa Otoriter yang mengikrarkan diri sebagi Tuhan. Isa seorang politikus yang ulung datang dan mengikrarkan diri sebagai Raja (cinta-kasih) mematahkan hegemoni membuat alternatif pilihan bagi rakyat. Meski langkahnya dihentikan di tiang salib namun semangatnya tetap hidup selama berabad-abad.

Satu lagi yang merupakan guru umat manusia. Lahir di gurun tandus. Kelahiranya saja sudah resisten dengan status Quo, mematahkan mitos kenabian yang sebelumnya banyak disanding oleh bangsa Yahudi. Putra padang pasir ini tumbuh ditengah situasi sulit. Berternak, berdagang, bertukang merupakan aktifitasnya di masa mudanya. Hidup ditengah bangsa Arab yang sangat patriarki. Perempuan dibunuh, manusia dijual beliakan, hutang tidak pernah dibayar, berhala jadi tuntunan, perang pemanis hidup. Suatu gambaran masyarakat yang sangat kompleks, konfliktual dan sangat semraut. Namun Muhammad datang membawa perubahan semua perilaku negatif tersebut perlahan mulai diminimalisir. Bangsa arab yang suka berperang terpecah belah dalam kabilah-kabilah berubah bersatu saling mencintai. Gurun pasir tandur dan gersang tidak menghalangi kesejukan hati yang diwartakan Muhammad sebagai seorang organisatoris ulung, negarawan sejati.

Musa, Isa, Muhammad secara ragawi mereka adalah manusia biasa seperti kita. Namun mereka mampu mengasah naluri kemanusiaannya untuk kebebasan sejati. Kita belajar banyak dari kisah para Nabi-Rasul bukan sebagai dongeng namun menangkap spirit perjuangannya. Yang terpenting adalah Agama hadir dari dan untuk kepentingan manusia. Kesemuanya membebaskan, membawa perubahan baik material maupun Imaterial.

Panca-sila? "Belajar kembali mengeja spiritualitas Nation-State"

Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak diantara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu "Weltanschauung". Hitler mendirikan Jermania di atas "national-sozialistische Weltanschauung", - filsafat nasional-sosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Soviet diatas satu "Weltanschauung", yaitu Marxistische, Historisch- materialistische Weltanschaung. Nippon mendirikan negara negara dai Nippon di atas satu "Weltanschauung", yaitu yang dinamakan "Tennoo Koodoo Seishin". Diatas "Tennoo Koodoo Seishin" inilah negara dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas satu "Weltanschauung", bahkan diatas satu dasar agama, yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh paduka tuan Ketua yang mulia: Apakah "Weltanschauung" kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka? Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi - saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Panca Sila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.
(Demikian pidato Soekarno dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai pada tanggal 1 Juni 1945 ketika sidang membicarakan dasar negara kita)


Kenapa harus takut pancasila tinggal nama? atau adanya koreksi mendasar dari Pancasila? Banyak pertanyaan muncul atas Pancasila seperti, apakah Pancasila memberikan penjelasan sistematis tentang konsep Nation-State dalam kapasitas membangun karakter Rakyat Indonesia?

Saya menilai bahwa pancasila dalam konteks perjuangan Rakyat Indonesia, hadir untuk mencairkan situasi dimana ketika perjuangan banyak kelompok atau aliran pergerakan seperti yang berlatarbelakang Komunisme, Tradisional, Nasionalis, Sosialisme, Agama. Faksionalisasi ini dipandang akan menghambat cita-cita kemerdekaan karena belum adanya kata sepakat dalam penentuan landasan/falsafah Indonesia Merdeka.

Nah... untuk itulah Pancasila hadir sebagai semangat bersama yang mampu mengakomodir perbedaan pandangan tersebut. Namun saya tidak yakin Ormas/partai ketika itu memaknai Pancasila sebagai landasan perjuanngan dan spiritualitas pergerakan mereka. Karena setelah kemerdekaan justru faksionalisasi ini semakain mengerucut. Simak saja bagaimana muncul gerakan-gerakan yang hendak memisahkan diri dari Indonesia seperti DI/TII, RMS, Permesta, dll.

Bila kita memandang Pancasila sebagai sesuatu yang sudah sempurna (by given) maka di mana proses dialektika suatu bangsa. Belajar dari perkembangan beberapa negara yang menjadi referensi pada pidato Soekarno di atas sebut saja Rusia, Jerman, China, Jepang dan Arab Saudi kesemunya telah mengalami perubahan yang pesat dalam proses bernegaranya.

Rusia (Soviet) sebagai negara "dedengkot" Komunis nyatanya telah runtuh pada 1989 namun masih eksis sampai sekarang tentunya dengan beberapa penyesuaian yang mendasar. China meski tetap berpaham Komunis namun mereka mampu mematahkan stigma negatif Komunisme dengan kemajuan ekonomi yang melebihi negara-negara Eropa-Amerika (Kapitalis).

Mereka berani melakukan perombakan mendasar terhadap Weltanschauung (falsafah berbangsa-bernegara) konstitusi, maupun paradigma masyarakat. Tidak ada yang statis semuanya berubah, berdinamika sesuai perkembangan zaman. Karena zaman ini tidak bisa dilawan namun manusia harus dapat beradaptasi. Mencari formulasi yang tepat dan kontekstual untuk menemukan tingkat ke-idealannya.

Bila saat ini ada sebagian orang/kelompok yang meragukan/mempertanyakan ulang tentang Pancasila, apakah kemudian mereka di-identifikasikan tidak setia terhadap NKRI? Namun jarang sekali yang bertanya kenapa sikap seperti itu diambil. Menjadi sangat ambigu bila kita meletakan Pancasila hanya sebagai teks (catatan) namun tidak direalisasikan. Perealisasian Pancasila sangat tergantung dari Politic will pemegang otoritas tertinggi di negara ini (pemerintah).

Berbicara hal seperti kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan adalah persoalan bersama dan menjadi tanggung jawab bersama pula. Namun dalam konteks berbangsa den bernegara maka Pemerintah (negara) lah yang harus bertanggung jawab penuh. Negara-lah yang bertindak sebagai katalisator bukan lantas seperti zaman Orde-Baru mengunakan Pancasila sebagai "palu godham" untuk kekuasaan yang menyengsarakan rakyat Indonesia.

Yang hendak kita bangun adalah Negara Indonesia yang berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan bermartabat dalam budaya. Yang mesti dipahami Pancasila itu cita-cita. Bukan lantas meletakan Pancasila sebagai ritus pemberhalaan sejarah. Sekarang mari kita pikirkan bersama bagaimana cara untuk mencapai cita-cita bersama tersebut?



Sumpah Pemuda Jilid II

"Kakek dan Nenek kita tidak ikut serta atau tahu apa itu sumpah pemuda? namun mereka tetap Indonesia bahkan paling loyal terhadap kemerdekaan dan kemajuan Indonesia"

Demikian celoteh nakal dari salah seorang teman yang terlontar beberapa bulan lalu dan sampai sekarang masih terngiang lekat dalam ingatan saya. Bila kita menelusuri lebih dalam makna dari ungkapan di atas maka anda mungkin sepakat bila sudah semestinya kita kembali merefleksikan peristiwa sumpah pemuda yang kini hanya menjadi ritus pemberhalaan sejarah. Seremonial yang diperingati berulang-ulang tiap tahunnya.

Dalam pengetahuan kolektif kita, peristiwa sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 adalah suatu konsolidasi/kongres pemuda yang digawangi oleh serikat/organisasi pemuda seperti Djong Java, Borneo, celebes, Ambon, dll. Peristiwa tersebut dipandang sebagai momentum awal kebangkitan bersama dengan tiga pilar utama bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Inilah permulaan yang di-identifikasi sebagai titik pertemuan identitas kolektif manusia yang mendiami gugusan kepulauan dari Merauke sampai Sabang yang kemudian sepakat menjadi Indonesia.

Lantas bila demikian adanya, apakah loyalitas atas ke-Indonesiaan kemudian diukur dengan indikator-indikator normatif seperti yang tertuang dalam sumpah pemuda? Tiga pilar yang tertuang dalam sumpah pemuda haruslah dipahami sesuai spirit zamannya. Situasi sosial akan mempengaruhi kesadaran sosial. Bila demikian seperti itu adanya maka dapat dibayangkan bila Kolonialisme dan Imperialisme tidak pernah ada di Indonesia apakah akan muncul Sumpah pemuda? atau sumpah pemuda lahir karena kesadaran independensi-kolektif menuju suatu otoritas merdeka?

Bayangkan pada tahun 1928 manusia Indonesia pada saat itu berkisar 40-50 juta jiwa yang tersebar di pedalaman, pesisir, pulau kecil dan besar. Zaman dimana modernisasi mulai bersentuhan dengan masyarakat tradisional. Masih sangat sedikit yang memahami tulisan, transportasi dan komunikasi adalah barang mewah. Zaman dimana kita seakan hidup di dalam rumah kaca, hanya mampu melihat gemerlapnya dunia tanpa mampu menyentuhnya. Pada tahun yang sama masyarakat Alifuru di pedalaman pulau Seram Maluku tengah atau masyarakat Dayak yang hidup tentram ala komunal-primitif di pedalaman Kalimantan, mareka hidup damai dan merasa sebagai manusia bebas tanpa tahu apa itu VOC, Belanda, penjajahan, Sumpah pemuda dll. Namun mereka siap menjadi Indonesia. Bila demikian keadaannya lantas menjadi mentah hipotesa yang mengatakan bahwa sumpah pemuda berhasil menyatukan Indonesia untuk keluar dari penjajahan.

konsolidasi sekian juta manusia bukanlah hal yang mudah. Sejarah mencatat bahwa Sumpah Pemuda hanyalah diwakili oleh segelintir intelektual muda tanpa basis masa yang jelas. Karena bila kita bandingkan dengan kekuatan ormas seperti Masyumi, Muhamadiah atau Sarekat Islam yang memiliki anggota ribuan bahkan jutaan tentunya memiliki daya jangkau yang luas dalam membentuk opini publik. Maka pertanyaannya seberapa besar basis massa yang dimiliki oleh Sumpah Pemuda? Sehingga seakan mampu mengorganisir manusia nusantara menjadi Indonesia.

Tanpa menghilangkan arti pentingnya Sumpah Pemuda dalam khasanah kesejarahan kita, ada baiknya kita butuh pembacaan ulang atas situasi kekinian. Memahami spirit zaman mungkin itu kata kunci untuk dapat merefleksikan ulang sumpah pemuda. Atau bila perlu Sumpah Pemuda jilid II harus segera disiapkan.

Komunitas Tanpa Nama: Tralala Trilili

Sebuah komunitas sastra di Jogja, Komunitas Tanpa Nama (KTN) ingin menerbitkan buku, sebagai pengikat komunitas mereka. Lalu mereka sepakat mengumpulkan tulisan berupa sejumlah puisi, cerpen, essai, flash fiction dan lain sebagainya. Kebetulan di antara mereka beberapa ada yang bekerja di penerbitan buku, sebagai editor, jadi untuk cover, editing, froofing, mereka menggunakan kekuatan sendiri, tanpa harus minta bantuan orang lain. Maka setelah bahan-bahan tulisan mereka terkumpul, mereka memutuskan untuk menerbitkan buku itu melalui jalur “Indie Label”. Sangar, kan?


Buku itu diberi judul Tralalatrilili. Dengan semangat menggebu, mereka mendatangi penyair Saut Situmorang ke rumahnya, dan meminta ia memberi sebuah catatan penutup untuk kumpulan tulisan itu. Saut pun setuju, dan memberi sebuah catatan penutup dengan judul Sastra Kampus, Sastra Underground, sebuah essai yang mengkritisi posisi mahasiswa dan corak sastra yang mereka hadirkan di tengah situasi social masyarakatnya.

Alhasil, setelah mengumpulkan sejumlah uang, entah dari tabungan atau uang saku mereka, dan setelah berjuang tak kenal lelah, buku itupun kini telah terbit dan dijualkan pula secara indie oleh mereka. Ada sebelas orang penulis di dalamnya: Arfin Rose, Dimas Prastisto, Mega Aisyah Nirmala, Mega Ayu Krisandi Dewi, Dhaniel Gautama, Arie Oktara, Rizal Fernandez, Amier Chan, Irwan Bajang, Djali Gafur, Anita Sari.

Ini adalah satu lagi bentuk buku indie yang berani tampil di tengah hingar bingar bisnis buku yang semakin market oriented. Penerbit mana yang mau menerbitkan buku kumpulan tulisan dari manusia-manusia tak terkenal seperti mereka ini? Mungkin bagi penerbit, buku ini tak akan memeberi hasil jika diterbitkan, hanya menambah ongkos produksi dan menyurutkan penghasilan. Tapi tidak buat lascar KTN, buku ini adalah sebuah semangat dan sebuah anak bersama yang mereka rawat dan jaga. Sebuah kebanggaan bagi mereka untuk memiliki sebuah buku bersama-sama. Mereka mulai menulis, menerbitkan juga mengedaran buku ini dengan semangat Indie, semangat muda yang menyala-nyala.

Apakah Anda tidak tergugah? Siapkan tulisan Anda dan majulah dengan semangat indie!
Berikut ini, sebuah kata pengantar yang mereka tulis untuk bukunya.

Anak Kami Bernama Tralalatrilili

Barangkali kami tak punya cita-cita yang besar ketika memulai berkumpul dan berproses, lalu berniat untuk melahirkan anak bersama kami ini. Tapi begitulah, kami memang tak punya banyak impian kala itu, selain bermimpi anak kami ini lahir dan bisa bermain bersama orang-orang yang kelak (mau) menjadi teman, sekadar kenalan atau bahkan kelaknya bermusuhan. Kami menjaga setiap proses kelahirannya, memberinya gizi yang (barangkali cukup) seimbang, sembari berdoa, kelak anak kami ini menjadi jejak sejarah keberadaan kami. Menjadi cerita bahwa kami pernah ada dan pernah sedikit bermimpi.
“Kenapa Tralala Trilili?”
“Pertanyaan Anda aneh sekali, tolong jangan tanyakan itu.”
“Kenapa? Saya mau tahu!”
Waduh, baiklah, akan kami coba jawab seadanya. Tralala Trilili barangkali representasi dari imajinasi nakal kami. Imajinasi yang kadang tak terbendung, kadang garing, aneh, gila bahkan konyol dan tak masuk akal. Tapi percayalah jika imajinasi itu kadang kami rindukan sendirian di pojok kamar kami. Kami jadikan bahan hiburan saat sedih dan patah hati. Kami merangkai tulisan-tulisan ini di kamar-kamar kami, ditemani kopi dan insomnia barangkali. Sesekali di kampus, seringnya di warung tempat kami makan, di kantin, di halaman, saat putus cinta,
saat dapat beasiswa, atau saat bersebrangan pilihan dengan pacar, suami atau istri salah satu di antara kami.
Dari situ kami yakin TralalaTrilili ini lahir. Dia bukan anak yang dahsyat, yang jika dibaca akan membuat mata berkaca-kaca, atau membuat kemarahan Anda meledak-ledak. Ia hanyalah kumpulan keceriaan sekaligus kegelisahan. Sebuah perpaduan sifat yang sungguh sangat bertolak belakang. Jadi harap maklum jika seusai (atau bahkan sebelum) membacanya, Anda sudah tidak suka dan ingin menyobek atau membuangnya.
Tapi begitulah, dengan segala kerendahan hati kami, tapi juga dengan penuh kebanggaan, melahirkannya, memberinya nama dan berjanji akan menjaganya. Kelak akan kami asuh di tengah-tengah Anda semua. Kami tak ingin berharap banyak, karena keterbatasan dan ketololan kami. Kami hanya ingin kelak anak kami, Anda dan juga kami mengingat dua kalimat yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar: Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Kami hanya ingin tersenyum menyambutnya. Memperkenalkannya pada banyak orang. Dan tanpa malu mengaku bahwa kamilah bapak dan ibunya.

Salam sehat selalu untuk Anda.

KTN

Carnaval In Jogjakarta

Miniatur masjid ikut meramaikan carnaval malam takbiran



Si kecil, tidak mau kalah



Penuh warna



Dengan latar belakang patung yang aneh

CPGC International Intership Program (Indonesia Research Progam) In Bali 2009

Taman 65, tempat luarbiasa yang pernah aku jumpai.
miniatur masyarakat yang tidak menyerah dengan keadaan
selalu belajar dan bekerja.




Perpustakaan mungil disudut ruang tamu,
potret keluarga yang selalu melawan lupa





Meski berbeda namun kami menghormati perbedaan itu,
Cintakasih, perdamaian adalah bahasa universal
kami selalu dan selalu mencoba memahaminya





"Suarakan apa yang anda ingginkan,
agar semua orang tau siapa anda.
Lakukan! sebelum orang bosan & mengacuhkan mu"
(kata seorang kawan penuh simpatik)





"Dilingkaran aku cinta padamu" kata Iwan Fals
Lingkaran layaknya cincin
ini lingkaran ide, tak mampu dipenjara waktu

SENI-BUDAYA ITU MILIK SIAPA? Pentas seni rakyat di malam takbiran, suatu khazanah yang terlupakan






















By: Gafur Djali


Berkesenian adalah bentuk kebebasan

Setiap orang berhak berkreasi,berekspresi dan berapresiasi

Apa yang dirasakan dalam setiap sendi kehidupan dapat diluapkan

Dengan seni-budaya manusia belajar untuk jujur

Dengan seni-budaya manusia perlahan membangun dan menjaga peradabanya

Karena dengan peradaban kita menjadi Manusia(wi)



Sebaris wajah Jogja

Layaknya malam-malam menjelang lebaran seperti tahun yang sudah-sudah, masyarakat berbondong-bondong tumpahruah di jalanraya. Wajah sumringah, penasaran, tak sabar, dan gembira tergambar dari ekspresi rautmuka orang-perorang. Tua, muda, besar, kecil, laki-laki, perempuan, banci, gay, lesbi semuanya menghadiri hajatan akbar tersebut. Sudut jalan serasa begitu sesak dipenuhi dengan lautan manusia.

Saya-pun tidak mau ketinggalan untuk menjadi saksi hidup melewati pergantian malam menuju 1 Syawal 1430 Hijriah. Ini tahun ke-empat menghabiskan malam takbiran di tanahrantau. Negeri yang mengikrarkan diri sebagai pewaris kerajaan Pajang yang pada masa jayanya pernah menguasai Jawa secara penuh. Pernah juga menjadi Ibu kota Negara pada awal kemerdekaan. Kini dikenal sebagai kota pelajar kawah candradimuka tempat menempa putra/putri Indonesia, dan sekarang dihuni sekitar 4 juta jiwa penduduk, ya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota yang lebih akrab disapa Jogja ini merupakan salah satu kota icon budaya Indonesia. Kita dapat menjumpai warisan budaya yang sampai sekarang masih menjadi panutan warganya, bukan hanya sebagai ritus budaya melainkan telah menjadi bagian penting dalam tatanan masyarakat Jogjakarta bahkan Indonesia. Setiap ada yang menyebut Jogja maka pikirannya pasti tertuju pada beberapa Icon budaya, seperti Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, candi Prambanan, Candi Ratu boko, Pemandian taman sari, Jln Malioboro, Tari Djatilan, Batik, Gamelan, Wayang, gudek dll. Selain itu kota ini juga dikenal memiliki tradisi Islam yang kuat dengan organisasinya Muhammadiah.

Seni-budaya yang khas, masyarakat yang ramah dipadu dengan alam yang eksotis menjadikan Jogja sebagai destinasi pariwisata favorit ke-dua setelah Bali. Turis demestik maupun mancanegara menyempatkan diri mengunjungi Jogjakarta yang oleh dinas pariwisata setempat memprediksi volume pertahunnya dapat mencapai 2 juta orang wisatawan pertahunya.

Layaknya kota-kota lain di Indonesia dalam memeriahkan malam takbiran, Jogja menggelar acara agenda tahunan yaitu Takbir Akbar keliling. Acara ini melibatkan hampir seluruh elemen masyarakat yang tergabung dalam grup kesenian, paguyuban, organisasi kepemudaan, perwakilan dari Mushola/masjid, kelurahan, sekolah, pengajian, dll. Secara umum peserta di domoniasi oleh anak-anak, remaja dan anak muda. Semuanya berpakayan seragam, kompak, meriah penuh warna-warni dan dihiasi dengan beragam aksesoris dari tradisional maupun modern seperti blangkon, lampion sampai lampu warna-warni ala-starwars. Bukan itu saja ada juga yang membuat patung Aladin lengkap dengan lampu ajaib dan jin, miniatur-miniatur seperti masjid, kapal, Ka’bah juga tidak absen dalam Takbir Akbar tersebut. Parade berjalan perlahan namun penuh semangat, penuh kebersamaan, baik peserta maupun penonton semuanya larut dalam sukacita penuh kegembiraan .

Dalam acara takbiran tersebut para peserta berjalan menyusuri jalan-jalan protol dengan tujuan perempatan kantor pos Jogja. Sepanjang perjalanan mereka melafalkan takbir, tahmid dan tahlil menyanjung kebesaran sang pencipta. Selain itu pawai juga di isi dengan atraksi-atraksi menarik yang ditampilkan seperti tarian, musik dan formasi barisan yang tak jarang mengundang decak kagum dan tepuk tangan meriah para warga yang menyaksikan dari bibir jalan.

Ini pemandangan yang cukup langka karena hanya terjadi setahun sekali itupun untuk memeriahkan hari suci umat Islam. Dengan kamera poket ditangan saya coba merekam setiap moment dalam pawai tersebut. Malam begitu cepat berlalu dan tidak terasa empat jam sudah saya berdiri meyaksikan parade Takbir Akbar tersebut. Ditengah perjalanan pulang sesekali saya berpapasan dengan peserta pawai yang hendak bergegas pulang namun mereka masih dalam posisi formasi sempurn layaknya seperti diawal pawai. Malam yang istimewa, Jogja begitu berwarna dengan segala hiruk-pikuknya.


Di Jogja tanya itu datang

Setiba di kamar kost saya kembali mengutak-atik kamera melihat hasil jebretan amatiran di pawai tadi. Dengan seksama saya lewati gambar pergambar satu persatu. Dari gambar-gambar tersebut kemudian muncul pertanyaan dalam benak ini. Pertanyaan yang baru tapi lama. Kenapa demikian, dibilang baru karena saya baru menyadarinya namun sudah lama saya rasakan.

Pertanyaan ini tentunya sangat berdasar sesuai dengan perkembangan situasi kontemporer. Perselisihan antara Indonesia dan Malaysia dalam masalah teritorial kini mulai bergeser pada hitung-hitungan ekonomis dari produk budaya. Malaysia entah sengaja atau tidak melalui agen wisatnya memproduksi iklan yang ternyata di dalamnya memuat icon-icon kesenian Indonesia. Banyak sudah kasus yang bergulir dengan modus ini, mulai dari lagu, tarian, kerajinan dll. Wal hasil semua menjadi geram dan berbondong-bondong protes dengan manuver Malaysia tersebut.

Nah, sekarang coba dikorelasikan dengan acara Takbir Akbar yang saya anggap sebagai pentas Seni Rakyat Indonesia karena dari sabang sampai merauke melaksanakan hajatan tersebut. Disini mari melihat Jogja sebagai salah satu kota yang menjadi icon budaya Indonesia atau dapat dijadikan representasi dari Indonesia.

Pertama, Takbir Akbar menunjukan bahwa masyrakat Jogja masih memiliki jiwa seni yang kuat. Termasuk semangat spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Upaya atau proses dalam menghadirkan karya seni ke khalayak ramai patut di contoh dan diapresiasi. Bayangkan bila masyarakat kemudian memandang seni adalah hal yang percuma atau seni hanyalah komoditi semata. Ini tentunya berhubungan dengan pemaknaan seni itu sendiri. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana seni-budaya diletakan dalam tatanan masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jogjakarta pada khususnya?

Kedua, Takbir Akbar merupakan ekspresi kesenian rakyat yang disalurkan secara spontan atas kerjasama dan kesadaran kolektif masyarakat. Masyarakat kemudian terlibat baik aktif maupun pasif di dalamnya. Bila itu adalah ekspresi berkesenian maka apakah materi pertunjukan sudah benar-benar mencitrakan masyarakat Jogja yang katanya memiliki tradisi Islam dan Jawa yang kental?


Dari Jogja meneropong Indonesia

Pertanyaan di atas mungkin akan mendapat jawaban yang proposional bila melakukan reseach bertahun-tahun secara menyeluruh dan mendalam. Namun di sini saya coba mengemukakan pandanagan subjektif saya dalam melihat persoalan tersebut.

Saya menilai bahwa pemahaman masyarakat akan seni-budaya sangat mulai bergeser. Kebanyakan dari kita masih memandang seni-budaya sebagai sesuatu yang sangat adhiluwung sesuatu yang sakral dan prestisius sehingga hanya segelintir orang saja yang berhak mewarisi dan memiliki akses untuk belajar. Seni-budaya kemudian tersentralkan dalam lembaga-lembaga formal kerajaan maupun negara.

Dalam konteks sejarah hirarkis di Nusantara, kita dapat menjumpai bagaimana Raja begitu digdaya dalam mentukan kemana arah perkembangan seni-budaya itu diorientasikan dan pada umumya hampir semua tersentral di Kerajaan atau negara. Sebut saja dalam pengunaan bahasa daerah yang mengenal kasta, pangkat dan jabatan. Buku-buku sejarah seperti Babad dll, ditulis sangat subjektif oleh penguasa ketika itu. Selain itu terdapat juga tarian dan ritual yang sengaja diproduksi untuk mengukuhkan kedudukan penguasa. Hal serupa kemudian diwarisi ketika masa orde baru berkuasa.

Sampai sekarang kita dapat menyimak bahwa perkembangan seni-budaya cenderung statis bahkan menurun. Mulai berkurangnya sanggar-sanggar kesenian rakyat dan minimnya apresiasi terhadap pelaku seni. Bila pameran atau pementasan haruslah ditempat yang mewah dan dipasang tarif mahal sehingga sebagian masyarakat tidak dapat mengaksesnya. Adanya klasifikasi seni (eksklusif & murahan) ini dapat menjadi indikasi dimana seni-budaya sudah mulai beranjak jauh dari masyarakat. Seni-budaya sudah tidak lagi menjadi sahabat dalam kehidupan.

Imbasnya adalah masyarakat kemudian kehilangan daya kreasi, kehilangan citarasa dalam berkesenian. Karena tidak turut aktif berpartisipasi dalam memproduksi atau mereproduksi produk kesenian. Masyarakat menjadi subordinat penguasa dan alur perkembangannya pun sangat linier dengan grafik perkembangan seni-budaya yang semakin menurun.

Tidak adanya dialektika di dalamnya sehingga masyarakat kehilangan daya cipta, rasa dan karsanya. Saya hendak menunjukan bukti dimana ketika Takbir Akbar berlangsung sekilas saya dapat merasakan betapa mulai menipisnya cipta, rasa dan karsa masyarakat Jogja. Tidak jelas apa yang hendak ditampilkan, selintas seperti Arab, namun bisa juga sangat Jawani, bahkan ada juga yang lebih dahsyat dari budaya pop. Mungkin ini yang dinamakan akulturasi atau transformasi kultural?

Saya memandang masyarakat Jogja masih memiliki kepekaan seni yang tinggi terutama dalam mensikapi kasus klaim icon budaya Indonesia oleh Malaysia. Maka secara bijak dan rasional ini merupakan ajang akbar untuk menjukan kepada dunia bahwa yang menjadi milik kita haruslah tetap hak kita. Namun ternyata kesempatan itu tidak di manfaatkan dengan baik. Kebanyakan peserta lebih bangga dengan atribut modern yang mereka kenakan dan sangat minim yang menggunakan atribut tradisional yang melambangkan kultur Jogja itu sendiri.

Bila ada yang mengklaim Wayang sebagai milik Malaysia maka seluruh orang Jogja bahkan Indonesia akan marah besar. Namun bila disajikan pertunjukan Wayang maka yang hadir dapat dihitung dengan jari atau bila ditayangkan di televisi itu pun sebagai pelengkap semata untuk mengisi jam siaran yang kosong. Bila ada pelaku seni (penari) yang hanya diberi upah Rp.35.000 untuk sekali pentas apakah itu manusiawi? Bila sanggar-sanggar seni harus mengamen dari rumah-kerumah untuk membiyayai operasinalnya apakah itu wajar? Bila proposal untuk festival budaya ditolak karena alasan evisiensi apakah itu proporsional?

Saya memandang ada hal yang tercerabut begitu akut, ketika hal tersebut terjadi maka kemunduran perlahan dari suatu masyarakat jelas sudah. Kita terlalu ahistoris dan apolitis, dua hai ini menjadikan produk kesenian yang dihasilkan hambar makna filosofisnya dan tidak mempunyai imbas dalam kehidupan sosial. Pementasan seni (Takbir akbar) hanyalah rutinitas belaka tidak dipandang sebagai suatu proses ber-kebudayaan. Padahal disinilah interaksi manusia dengan segala ide yang hendak direalisasikan bertemu.

Kita melihatnya seni-budaya secara keseluruhan, sebagai proses yang selalu berdialektika dan menghadirkan sesuatu hal yang kentekstual dan dapat menangkap semangat zaman tersebut. Dalam situasi seperti ini menjadi rasional sebagai warga negara kemudian mempertanyakan peran negara atau pemerintah. Pemerintah sebagai pemegang orotitas politik dan memiliki akses yang luas, namun sudahkah pemerintah turut aktif dalam seni-budaya di masyarakat?

Untuk Jogjakarta sendiri saya menilai ada beberapa hal yang dapat menjadi tongak perubahan sekaligus bumerang bila tidak dapat dikelola dengan baik. Kraton sebagai Icon budaya Jogja haruslah dapat menjadi media dimana seluruh rakyatnya dapat berkresia, berekspresi dan berapresiasi. Mediasi diperlukan untuk menjaga intensitas dimana rakyat kemudian mendapatkan bentuknya dalam seni-budaya. Bukan sebagai upaya sentralisasi melainkan Kraton dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya sanggar-sanggar kesenian rakyat baik secara spiritual maupun material.

Jangan pernah lupakan bahwa rakyat punya semangat serta potensi untuk maju terutama dalam bidang seni-budaya. Takbir Akbar jadi buktinya, walau bagaimanapun hal tersebut patut diapresiasi setinggi-tingginya. Sudah mestinya seni-budaya diletakan sebagai landasan utama rakyat berekspresi dimana subjek utamanya adalah rakyat. Kebebasan rakyat dalam berkesenian dapat menjadi motor perkembangan suatu bangsa karena dengan seni-budayalah manusia belajar jujur tentang apa yang dirasakan. Dan belajar untuk berani menyuarakannya.

Jogjakarta. Selasa, 22 September 2009