Musim Penghujan

sore diselimuti mendung rinaimu
sudut-sudut kota digelayuti sepi
hari serasa mati tak berkedip
hanya sumpah serapah terdengar
terselip suara pedagang kaki lima membungkus lapaknya
sementara petani ladang menyiapkan persembahan
sesajen musim tanam telah tiba
di Ibukota semua orang sibuk menyambut tamu tahunan
banjir siap melayat
mengunjungi setiap sudut kehidupan
bahkan
jika sempat
sowan P
residen di Istana Negara
musim hujan, musim penuh warna
seperti pelangi yang kau titipkan
lalu kau h
apus dengan gerimis
perlahan hujan menjama bumi


Jogja, 21 Nov 09

Gambar
,,,

Cuap-Cuap Bahasa Teologi

Di kompas edisi jumat tahun lalu? pernah muncul tulisan menarik. Inti tulisan tersebut adalah merubah urutan pancasila. Sila kelima menjadi urutan pertama, keempat menjadi urutan kedua dan seterusnya. Pada pemahaman tersebut, konsepsi teologis, "ketuhanan yang maha esa" diletakkan pada baris paling akhir, yakni pada urutan kelima, sebaliknya persoalan kesejahteraan dijadikan sebagai capain kunci. Ini dekat sekali dengan rekonstruksi teologis yang pernah dilakukan Hasan Hanafi setelah revolusi iran 79. Tapi buku Simogaki, "Kiri Islam Hasan Hanafi" baru beredar (diterjemahkan) di Indonesia tahun 92? Hasan Hanafi melihat kecenderungan kooptasi teologis oleh kekuasaan. Oleh karena itu dia mencoba membangkitkan lagi khasanah teologi pembebasan, memuji Mu'tazilah, otomatis juga mendapat berkah dari Marx. Dan seterusnya, kawan2 pasti lebih paham. Yang jelas, ini varian pemikiran yang linear dengan--jika konsepsi teologis pancasila diletakkan menjadi "bungsu". Karena, katanya, "seseorang tidak mungkin mampu mengemban ritus2 keagagamaan dengan kondisi perut yang lapar." Ini hanya analogi kecil.

NB: catatan singkat ini tersentil dari komentar kawan Oo Zaki di atas.

Manusia Indonesia meletakan ketuhanan pada point pertama dalam falsafah bernegaranya, hasilnya adalah ketika BBM naik Ulama datang dan berkata "sabarlah semua ada hikmahnya". Bencana Lumpur Sidoarjo yang jelas-jelas kesalahan manusia kemudian dimaknai sebagai bencana yang datang dari langit, lagi-lagi ulama datang "kita harus banyak mendekatkan diri pada Nya, semua ini cobaan kita ambil hikmahnya saja". Agama di Indonesia kemudian sangat melemahkan bukan kemudian menjadi spirit dalam menjalani hidup.

Agama adalah alat dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita ibaratkan Agama seperti pisau dan kebahagiaan dunia-akhirat sebagai kue. Untuk dapat memakan kue maka kita harus memotongnya maka kita butuh pisau. Bagaimana mendapatkan potongan kue yang bagus dan enak? Jawabanya adalah Kita butuh pisau tajam, bersih dan mengetahui cara memotong kue. Maka akan menghasilkan kue yang enak dan bagus sesuai yang diharapkan. Byangkan bila kita mengunakan pisau yang tumpul, kotor dan tidak tahu cara memotongnya maka hasilnya tentu akan mengecewakan.

Nah... analogi tadi sekarang kita kontekskan dengan Agama/Teologi dan pemebebasan. Teologi di tempatkan sebagai pisau dan pembebasan adalah kuenya. Maka untuk mendapatkan kue yang enak kita butuh pisau yang tajam. bersih dan tahu cara memotong. Artinya adalah sebelum meletakan Teologi sebagai alat pembebasan maka ada baiknya kita tanyakan apakah Teologi yang ada sekarang sudah tajam, bersih, dan paham cara memebebaskan? Bila jawabanya adalah suadah/ya maka kenapa Teologi masih saja diam di tengah situasi seperti ini? Jika Teologi masih saja diam tidak dapat menjadi alat yang efisien maka sebelum Teologi menjadi alat pembebasan (teologi pembebasan) maka adabaiknya Teologi dibebaskan terlebih dahulu (pembebasan teologi).
Secara spiritualitas saya belum mampu menjawab hal tersebut, tapi ada baiknya kita kembali melihat perjalanan panjang dimana Teologi menjalankan fungsinya dengan apik.

Setiap Agama lahir atas dasar spirit pembebasan menjadi lokomotif dalam mengerakan umat manusia menuju kebebasan duniawi dan ukhrowi. Mari kita belajar dari pemuda-pemuda progresif revolusioner yang telah menjadi spirit dan menginspirasi umat manusia sepanjang masa.

Belajar dari Musa di Mesir. Melakukan perlawanan pada penguasa (Firaun) yang memperbudak orang Yahudi sebagai buruh untuk membangun makam para raja (piramid). Musa kemudian resisten, melawan ayah angkatnya sendiri. Mengorganisir ratusan ribu buruh/budak untuk mendapatkan kebebasannya. Terjebak di gurun selama puluhan tahun namun kemudian berbuah manis untuk kebebasan para buruh tersebut. Seorang aktivis buruh yang ulung.

Lihat juga apa yang dilakukan Yesua putra Maria. Isa Almasih seorang anak muda umur dua-puluhan hadir mentang pedagangan (barang & uang) di Bait suci. Berdebat dengan para pendeta karena semuanya diam dan lebih berpihak sebagai corong penguasa yang lalim. Dan pada titik klimaksnya Isa berikrar melawan hegemoni imperium Roma. Imperium terbesar di dunia yang dikendalikan oleh penguasa Otoriter yang mengikrarkan diri sebagi Tuhan. Isa seorang politikus yang ulung datang dan mengikrarkan diri sebagai Raja (cinta-kasih) mematahkan hegemoni membuat alternatif pilihan bagi rakyat. Meski langkahnya dihentikan di tiang salib namun semangatnya tetap hidup selama berabad-abad.

Satu lagi yang merupakan guru umat manusia. Lahir di gurun tandus. Kelahiranya saja sudah resisten dengan status Quo, mematahkan mitos kenabian yang sebelumnya banyak disanding oleh bangsa Yahudi. Putra padang pasir ini tumbuh ditengah situasi sulit. Berternak, berdagang, bertukang merupakan aktifitasnya di masa mudanya. Hidup ditengah bangsa Arab yang sangat patriarki. Perempuan dibunuh, manusia dijual beliakan, hutang tidak pernah dibayar, berhala jadi tuntunan, perang pemanis hidup. Suatu gambaran masyarakat yang sangat kompleks, konfliktual dan sangat semraut. Namun Muhammad datang membawa perubahan semua perilaku negatif tersebut perlahan mulai diminimalisir. Bangsa arab yang suka berperang terpecah belah dalam kabilah-kabilah berubah bersatu saling mencintai. Gurun pasir tandur dan gersang tidak menghalangi kesejukan hati yang diwartakan Muhammad sebagai seorang organisatoris ulung, negarawan sejati.

Musa, Isa, Muhammad secara ragawi mereka adalah manusia biasa seperti kita. Namun mereka mampu mengasah naluri kemanusiaannya untuk kebebasan sejati. Kita belajar banyak dari kisah para Nabi-Rasul bukan sebagai dongeng namun menangkap spirit perjuangannya. Yang terpenting adalah Agama hadir dari dan untuk kepentingan manusia. Kesemuanya membebaskan, membawa perubahan baik material maupun Imaterial.