laut selatan


laut selatan...
dari atas mercusuar tua
aku mengawasimu,
menikmati tiap sudut-sudut sepi

debur ombakmu menyapu lembut pasir bibir pantai
menghasilkan desahan alam penuh hasrat,
aku merasakan butir-butir pasir berbisik riang
dicumbui asinya air kehidupan,
berpadu deru angin laut bertiup pelan
membelai ilalang-ilalang kering

pandanganku luas tak tertepi
di depan sana samudera hindia
hanya pada garis batas cakrawala
titik pertemuan bumi dan langit
pandanganku tertambat


laut selatan...
aku berdiri sendiri
menatapmu tak henti
riuh ombak pasir pantaimu
sepoi belaian anginmu
luas lautmu dan biru langitmu
ku rasakan mereka memelukku mesra
ada damai dalam setiap detik yang ku rasa
aku begitu tenang
aku begitu nyaman ada di sini

ah... sialan, laut selatan!
kau membuatkan ku rindu kampung halaman


17/12/09 tepi pantai Patehan

Balada Tentara Pena*


Angka sepuluh merupakan angka keramat, dalam sepakbola siapa yang mengenakan angka sepuluh berarti dialah bintang tim orang yang paling diandalkan meski mereka bermain bersebelas. Bukan hanya itu saja, ketika duduk di bangku sekolah dasar kita selalu berharap akan mendapat nilai sepuluh dalam pelajaran matematika, suatu pembuktian bahwa kita adalah anak jenius, meski ternyata guru punya rahasia, nilai sepuluh untuk Tuhan, sembilan untuk guru dan sisanya buat murid-murid.

Nah... ternyata, angka sepuluh dalam kesejarahan Indonesia juga memiliki arti yang sakral.


lagi-lagi dalam pelajaran sejarah di sekolah dasar pertama kalinya saya mengetahui peristiwa tersebut dari guru sejarah yang begitu apik bercerita meski saya tahu gaji guru tersebut tidak akan pernah cukup membawanya mengunjungi Surabaya apalagi nogkrong di jembatan merah sambari menyerutup wedang ronde dan menatap keindahan hotel Yamato (hotel Majapahit sekarang) yang bersejarah tersebut. Kawasan yang sekarang hampir ditelan ganasnya pembangunan.


Kisah heroik para anakmuda Surabaya (arek-arek Suroboyo) puluhan tahun tersebut dalam memerangi pendudukan tentara sekutu dengan bersenjatakan bambu runcing dan mermodalkan semangat merdeka atau mati, perlahan kisah tersebut mulai menghipnotis orientasi (cita-cita) masa depan seorang bocah desa, anak ingusan yang hidup dari hasil pertanian dan nelayan. Menetap di suatu tempat nun jauh di sana yang dalam sejarah Indonesia ketika masih ber-label VOC pernah menjadi Ibukota negara yang berkedudukan di Amboina.


Dalam otak saya ketika itu, berbicara kepahlawanan (hari pahlawan) seakan-akan hanya ada satu cita-cita yang paling mulia dan dapat dicatat oleh sejarah yaitu menjadi tentara. Kenapa demikian? terlepas dari latar belakang kakek saya adalah seorang tentara kemerdekaan dengan sekelumit kisah perjuangan yang disodorkan menemani siang-malam saya, namun ketika itu alasan saya memilih tentara sangat sederhana, "dengan menjadi tentara maka otomatis akan dibekali senjata dan pasukan, kemudian itu digunakan untuk memerangi musuh, cerita pun selalu berakhir manis berbuah kemenangan ditangan dengan begitu Indonesia akan menjadi Negara yang besar dan saya pun mencatatkan diri dalam sejarah".


Demikian setumpuk memori masa lalu saya ketika berbicara hari Pahlawan 10 November. Bagaimana sekarang? apakah masih ada cita-cita serupa? menjadi tentara, berbakti pada negara-bangsa dan dicatat dalam sejarah?


Pertama, cita-cita itu masih ada, untuk berbakti pada negara-bangsa dan dicatat dalam sejarah. Namun saya mengurungkan niat menjadi tentara karena pertimbangan material dan imaterial. Pertimbangan material karena ternyata kakek saya yang jelas-jelas adalah tentara kemerdekaan tidak mendapatkan haknya (pensiun) dan ternyata juga semakin kecil gajinya maka semakin besar resikonya, bandingkan gaji Jenderal yang duduk di ruang ber AC dengan tentara Infantri yang menjadi tameng di garda depan. Pertimbangan Imaterialnya adalah secara fisik saya kurang proporsional menjadi tentara, mana mungkin ada tentara kurus dan pendek, bisa-bisa memikul senjata saja tak kuasa apalagi berperang.


Kedua, berbekal kontemplasi sesaat dengan metode acak, ternyata membuahkan hasil. Berdasarkan kekurangan dan kelebihan yang saya miliki kemudian saya mulai mencari posisi yang tepat untuk mewujudkan cita-cita kecil saya tersebut.Tentara bicara ketahanan dan harga diri Negara terutama dari segala ancaman yang datang dari luar namun mereka lebih bersifat institusionalis. Bekerja sesuai sistem dan hukum yang berlaku. Meski terkadang di dalamnya terdapat kecurangan-kecurangan.


Saya harap cita-cita baru saya ini tidak kalah penting dengan tugas yang dijalankan tentara secara institusi. Tentara bicara harga diri bangsa di mata internasional, maka saya juga bicara hal yang sama, turut aktif dalam pergaulan internasional menunjukan kemampuan diri demi harga diri dan kehormatan Indonesia dalam pergaulan global.


Bila Tentara secara Institusi bicara mempertahankan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dari ancaman yang datang dari luar, maka saya juga berbicara hal yang sama, mempersatukan dari Merauke sampai Sabang menegakan keutuhan Nation-State membangun kekuatan nasional untuk memblok ancaman dari luar.


Suatu pekerjaan paling kuno dalam sejara umat manusia. Telah dipraktekan selama berabad-abad. Bahkan nenek moyang kita juga telah melakukan hal yang sama. Dan hampir kesemuanya membuahkan hasil. Suatu fase kehidupan yang di definisikan sebagai ciri masyarakat modern, proses eksistensi diri yang menemukan bentuknya.

Silahkan menerka, apa gerangan cita-cita yang mampu menandingi kerja-kerja Institusi Tentara, berbakti pada Nation-State dan dicatat dalam sejarah? Pekerjaan yang mulia seheroik perjuangan arek-arek Suroboyo.Anda harus bersiap-siap bingung dan terkejut dengan jawaban dari saya ini. Terkejut atau tidak, bingung atau tidak namun yang jelas anda harus bersiaplah untuk dua hal, pertama, anda akan mengamini mimpi saya ini. Kedua anda bersiaplah memiliki mimpi yang sama dengan saya.

Kawan... taukah apa cita-cita saya itu?

Sederhana saja saya hanya ingin Menulis...Menulis...dan Menulis




*Tulaisan pernah dimuat di bulletin Tjorong edisi November 2009

Gambar link