MENCIPTA DAMAI DI MALUKU



MENCIPTA DAMAI DI MALUKU
 
Kondisi Maluku seumpama rumput kering, sedikit percikan api dapat menimbulkan kebakaran sporadis. Hijaukanlah rumput kering tersebut biar semua menikmati kebahagiaan

Layaknya daerah lain di Indonesia, Maluku yang juga disebut negeri seribu pulau adalah daerah yang memiliki keragaman adat-budaya dan masih dijunjung tinggi sampai sekarang. Adat-budaya sudah menjadi satu tautan hidup yang tak dapat dipisahkan, karena Adat-budaya punya rangkaian historis yang memuat unsur estetis dan mengandung pesan etis. Kekayaan dan keragaman adat-budaya menjadi modal dasar yang dapat kita jadikan batu pijakan untuk mencipta damai di Maluku.

Pela-Gandong adalah teknologi-budaya masyarakat Maluku dalam membangun komunitas masyarakat yang harmonis. Pela merupakan suatu hubungan kekeluargaan yang dibangun atas dasar saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya sehingga mereka meng(ikrar)kan diri sebagai saudara. Sedangkan, Gandong adalah ikatan sedarah (adik-kakak) karena berasal dari rahim ibu yang satu.

Pada umumnya ikatan Pela-Gandong yang ada di Maluku mengikat dua entitas (negeri/desa) yang berbeda, terutama dari latar belakang kepercayaan. Ikatan ini kemudian mencipta satu rasa, saling menghargai, saling menghormati dan saling menolong. Seperti yang tersirat dalam falsafah hidup orang Maluku, ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging, katong samua basudara.

Sampai saat ini, kita mesti bersyukur bahwa Pela-Gandong menjadi media efektif dalam mewujudkan perdamaian di Maluku. Lagi-lagi ikatan kekerabatan dan kekeluargaan yang termanifestasikan dalam adat-budaya menjadi alat pemersatu. Sehingga bukan semata dimaknai sebagai serimonial melainkan mengandung unsur spiritual sehingga semuanya tunduk dan menjunjung nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur tersebut.

Rekonsiliasi Seutuhnya
Insiden 11 September kemarin jadi ujian berat bagi upaya rekonsiliasi di Maluku. Insiden tersebut seakan jadi isyarat bahwa upaya rekonsiliasi di Maluku belumlah selesai. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus disegerakan untuk membangun perdamaian seutuhnya. Pada tataran praksis, metode rekonsiliasi dengan partisispasi warga lewat instrument adat-budaya sudah menunjukan hasil yang optimal. Indikator minimalnya adalah komunikasi dan koordinasi dapat berjalan dan mampu mencipta tertib sosial secara menyeluruh di Maluku.

Namun, kita juga harus sadar betul bahwa rekonsiliasi pasca konflik bukan hanya persoalan mencipta hubungan yang harmionis, melainkan bagaimana mengisi hubungan yang harmonis (damai) tersebut. Lantas apa yang harus dikerjakan ketika kedamaian sudah terwujud? Itulah pertanyaan besarnya. Atau lebih spesifik yang terkait dengan pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat Maluku.

Rekonsiliasi sejati membutuhkan upaya proporsional, yaitu bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya, damailah negerinya dan sejahtera rakyatnya. Pertama (bangunlah jiwanya) dapat dan sudah termanifestasikan dalam nilai-nilai adat-budaya yaitu Pela-Gandong. Sedangkan yang kedua (bangunlah badanya) yaitu kebutuhan badaniah (kesejahteraan) boleh dibilang masih jauh dari harapan dan masih banyak hal yang harus dilakukan.

Damai Sejahtera
Bila berbicara pada tataran pembangunan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan, maka keterlibatan pemerintah menjadi mutlak adanya. Pemerintah daerah punya otoritas dalam menentukan arah pembangunan di Maluku sedangkan pemerintah pusat punya kewajiban untuk mendukung terwujudnya agenda tersebut. Kesuksesan pembangunan suatu Negara atau suatu Provinsi tidak terlepas dari cara pandang dan indikator yang digunakan dari pembangunan kesejahteraan itu sendiri.

Indonesia dalam satu dekade terakhir dicipta sebagai Negara yang ramah investasi asing dan gemar dengan perdagangan bebas. Secara konsepsional terutama pada tataran ekonomi internasional hal itu adalah lumrah. Namun, menjadi kecelakaan ketika potensi dan sumberdaya yang pada awalnya mampu di olah mandiri ternyata sudah dikuasi asing dan anak negeri hanya berharap pada tetes-tetes kekayaan yang urung datang. Konsep ekonomi yang sangat pro-modal dan pro-pasar tadi justru semakin menekan kreatifitas dan potensi masyarakat. Anak negeri menjadi terasing di tanah sendiri, dan kesejahteraan hanyalah mimpi belaka. Ini juga yang berlaku di Maluku atau di daerah lainnya di Indonesia.

Bila kita seksama melihat potensi sumberdaya alam di Maluku, maka kita akan sangat optimis bahwa dengan kekayaan yang sedemikian banyak sudah sepantasnya masyarakat Maluku menikmati kesejahteraannya. Tetapi pertanyaannya kenapa itu urung tercipta? Sekurangnya ada dua persoalan mendasar yaitu sumberdaya manusia dan ketersediaan infrastruktur.

Pertama, peningkatan sumberdaya manusia. Yaitu dengan peningkatan kesempatan dan pembukaan pendidikan formal dengan menyiapkan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan yang berkualitas. Memberikan beasiswa dan kesempatan terbuka bagi anak daerah yang punya potensi dalam porsi yang lebih besar. Pada tataran masyarakat, pemerintah daerah dapat mengadakan pelatihan aplikatif dan bantuan permodalan untuk pengembangan usaha kecil-usaha menegah dengan melibatkan kelompok kerja atau kelompok usaha yang tersebar di desa-desa.

Kedua, Pengembangan infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud menitik beratkan pada sarana transportasi dan penunjang usaha swadaya masyarakat. Mobilisasi manusia, barang dan jasa di Maluku masih sangatlah mahal dan sulit dijangkau sehingga distribusi informasi, barang dan jasa tersendat. Ini mempunyai korelasi dengan keberadaan sektor usaha mandiri (pertanian, perikanan, dan industri rumahan). Infrastruktur seperti jalan, jembatan dan pelabuhan sangat dibutuhkan di Maluku.

Perlu dicatat bahwa upaya dalam mencipta kesejahteraan bukanlah hal mudah seperti menghirup dan menghembuskan nafas. Penciptaan sumberdaya manusia yang berkualitas dan pembangunan infrastruktur dipandang sebatas stimulus yang mampu merangsang terciptanya kreatifitas masyarakat dalam mengelola alam dan menjawab keterbatasan yang dimiliki.

Bila kebutuhan jiwa dan kebutuhan badan sudah mampu dijawab, kita lantas dapat optimis perdamaian yang seutuhnya akan tercipta. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa rekonsiliasi dan penciptaan kedamaian di Maluku haruslah menyentuh seluru aspek dan melibatkan semua pihak.

Apa artinya kedamaian bila tidak dibarengi dengan kesejahteraan, demikian pula apalah guna kesejahteraan tanpa kedamaian. Keduanya berjalan sinergis, tidak dapat dipisahkan. Dan perdamaian dan kesejahteraan di Maluku menjadi tugas dan kerja nasional kita semua sebagai bukti bahwa kita adalah bangsa beradab.




Penulis adalah peneliti pada Cakrawala Institute.
(Center for Fair Development Studies-Pusat Study untuk Keadilan Pembangunan)

Label: , edit post
0 Responses

Poskan Komentar